Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah
Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 2 Jumadil Awal 1448 H / 13 Oktober 2026 M.
Kajian Tentang Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah
Secara bahasa, kata ilah berasal dari kata aliha – ya’lahu (al-ma’luh atau al-ma’bud) yang bermakna sesuatu yang diibadahi. Oleh karena itu, menerjemahkan kalimat laa ilaaha illallah sekadar “tidak ada Tuhan selain Allah” ini kurang tepat. Terjemahan yang lebih tepat adalah “tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah”, karena seluruh sesembahan selain Allah merupakan makhluk yang lemah dan tidak memiliki hak untuk diibadahi. Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang berhak diibadahi dengan benar, Tuhan Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
Pentingnya penambahan penjelas “dengan benar” (bihaqqin) menegaskan bahwa satu-satunya yang berhak atas seluruh bentuk peribadahan hanyalah Allah, Subhanahu wa Ta’ala. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya[21]: 25)
Seluruh nabi dan rasul, mulai dari Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengusung inti dakwah yang sama, yaitu tauhid—mengajarkan manusia untuk hanya menyembah Allah, Subhanahu wa Ta’ala.
Di dalam kitab Injil pun tidak ditemukan pernyataan dari Nabi Isa yang meminta manusia untuk menyembah dirinya. Nabi Isa senantiasa menyeru manusia untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengenai hal ini, Allah ‘Azza wa Jalla, mengabadikan dialog dengan Nabi Isa pada hari kiamat kelak dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ ﴿١١٦﴾ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ…
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam! Apakah engkau mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah meyakininya tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.`” (QS. Al-Ma’idah[5]: 116–117)
Perintah untuk mengesakan Allah dan menjauhi sesembahan selain-Nya juga ditegaskan dalam firman Allah yang lain:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut.`” (QS. An-Nahl[16]: 36)
Kata thagut berasal dari kata thagha yang bermakna melampaui batas. Secara istilah, thagut merujuk pada setiap hamba yang melampaui batas kewajibannya sebagai seorang hamba. Kewajiban utama seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga apabila ia dijadikan atau menempatkan dirinya sebagai objek ibadah, ia telah melampaui batas kedudukannya. Makhluk tidak boleh diibadahi karena hak peribadahan semata-mata milik Allah sang Pencipta.
Salah satu contoh bentuk thagut adalah seorang tokoh agama yang dikultuskan serta diberi sifat-sifat rububiyah oleh para pengikutnya, dan tokoh tersebut ridha atas pengkultusan yang berlebihan tersebut.
Dua ayat tersebut memperjelas bahwa makna al-ilah adalah al-ma’bud, yaitu yang diibadahi. Makna kalimat laa ilaaha illallah pada hakikatnya adalah memurnikan seluruh bentuk peribadahan hanya untuk Allah, Subhanahu wa Ta’ala.
Ibadah merupakan bentuk ketundukan dan kepatuhan yang disertai dengan rasa cinta. Ruang lingkup ibadah mencakup ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Ibadah hati—seperti rasa takut, cinta, khusyuk, harap, serta tawakal dengan menyandarkan hati hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala—merupakan bentuk ibadah yang sangat agung sekaligus menjadi fondasi utama dari seluruh peribadahan. Seseorang yang berada di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, dipenuhi dengan rasa khusyuk dan takut, maka ia sedang beribadah kepada-Nya. Sebaliknya, seseorang yang bersikap khusyuk dan mengagungkan kuburan sebagaimana ia khusyuk kepada Allah, atau bahkan lebih, secara tidak langsung telah menjadikan kuburan tersebut sebagai objek peribadahan.
Begitu pula dalam hal rasa cinta, mencintai sesuatu melebihi atau setara dengan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk perbuatan syirik besar. Allah ‘Azza wa Jalla, berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengambil tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)
Bentuk kecintaan kepada Allah, Subhanahu wa Ta’ala, adalah cinta yang dilandasi pengagungan serta ketundukan penuh. Seseorang yang mencintai sesuatu disertai pengagungan dan ketundukan setara dengan cintanya kepada Allah, telah menjadikan sesuatu itu sebagai tandingan bagi-Nya. Demikian pula seseorang yang menaruh rasa takut kepada sesuatu melebihi atau setara dengan rasa takutnya kepada Allah, ‘Azza wa Jalla, telah terjatuh ke dalam perbuatan syirik.
Maka hakikat laa ilaaha illallah adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibadah hati, lisan, dan anggota badan harus ditujukan hanya kepada-Nya, tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya. Selain itu, kita juga wajib menjauhi ibadah kepada thaghut.
Oleh karena itu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyeru orang-orang kafir Quraisy agar mengucapkan laa ilaaha illallah, mereka memahami makna kalimat tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, bahwa orang-orang kafir Quraisy menjawab:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya satu Tuhan saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shad[38]: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir Quraisy memahami konsekuensi kalimat laa ilaaha illallah, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka merasa heran karena menganggap bahwa beribadah kepada selain Allah tetap diperbolehkan, selama mereka meyakini bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi.
Ketika ditanya tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, orang-orang musyrik Quraisy mengakui bahwa Allah-lah Penciptanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Luqman[31]: 25)
Orang-orang musyrik Quraisy mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Pengakuan ini berkaitan dengan tauhid rububiyah, yaitu meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan, memiliki, dan mengatur seluruh alam.
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Yunus[10]: 31)
Ayat tersebut menegaskan bahwa orang-orang musyrik Quraisy mengakui kekuasaan Allah dalam memberikan rezeki, menciptakan kehidupan, serta mengatur seluruh urusan alam semesta.
Mereka juga mengetahui bahwa hanya Allah yang mampu mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan?” (QS. An-Naml[27]: 62)
Keyakinan tersebut tampak ketika orang-orang musyrik Quraisy berlayar di lautan, kemudian diterpa ombak besar. Dalam keadaan genting itu, mereka melupakan Latta, Uzza, dan Manat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian yang tulus kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka kembali mempersekutukan Allah.” (QS. Al-‘Ankabut[29]: 65)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika orang-orang musyrik Quraisy berlayar di lautan dan menghadapi bahaya, mereka berdoa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Namun, setelah diselamatkan dan tiba di daratan, mereka kembali melakukan kesyirikan.
Subhanallah, orang-orang Quraisy sebenarnya memahami makna laa ilaaha illallah. Inilah salah satu alasan mereka enggan mengucapkannya karena mereka mengetahui konsekuensi kalimat tersebut, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berbeda dengan sebagian orang pada zaman sekarang yang mengucapkan laa ilaaha illallah berulang kali, tetapi masih mendatangi dukun, menggunakan jimat, dan memasang sesajen. Mereka mengucapkan laa ilaaha illallah dengan penuh keyakinan, tetapi belum memahami hakikat maknanya.
Hakikat laa ilaaha illallah adalah tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh ibadah harus ditujukan hanya kepada-Nya, tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya.
Ketika Nabi Hud ‘Alaihis Salam menyeru kaumnya agar mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka menolak seruan tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا
“Mereka berkata, ‘Apakah engkau datang kepada kami agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami?’” (QS. Al-A’raf[7]: 70)
Mereka sangat fanatik terhadap tradisi leluhur sehingga tidak mau meninggalkan sesembahan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Fenomena serupa masih dijumpai pada zaman sekarang. Ketika dijelaskan bahwa sesajen merupakan bentuk kesyirikan apabila dipersembahkan sebagai ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagian orang beralasan bahwa hal tersebut merupakan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Mereka lebih memilih mempertahankan tradisi leluhur daripada mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikan melalui para nabi dan rasul-Nya. Padahal, nenek moyang mereka sendiri merupakan makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang seharusnya tunduk kepada perintah-Nya.
Penolakan kaum Nabi Hud ‘Alaihis Salam tersebut menunjukkan bahwa mereka memahami konsekuensi dari seruan laa ilaaha illallah. Mereka mengetahui bahwa seruan itu mengharuskan mereka meninggalkan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan demikian, makna laa ilaaha illallah mencakup dua hal. Pertama, meniadakan hak peribadahan dari segala sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, menetapkan bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak diibadahi, tanpa sekutu bagi-Nya.
Oleh karena itu, orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya dengan benar akan memahami bahwa ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya dengan benar akan meyakini bahwa pencipta langit dan bumi hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, hanya Allah yang berhak diibadahi, sedangkan selain-Nya tidak berhak mendapatkan ibadah.
Para nabi adalah makhluk Allah. Matahari juga merupakan makhluk Allah. Demikian pula sapi dan seluruh makhluk lainnya. Tidak ada satu pun makhluk yang berhak diibadahi selain Allah ‘Azza wa Jalla. Makhluk yang lemah dan senantiasa membutuhkan karunia Allah tidak pantas dijadikan sesembahan.
Namun, kesyirikan yang telah menghujam dalam hati seseorang dapat membuatnya menganggap kesyirikan sebagai kebenaran dan tauhid sebagai sesuatu yang salah. Padahal, tauhid merupakan landasan utama dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Maka, laa ilaaha illallah mengandung dua hal, yaitu nafyun dan itsbat. Nafi berarti meniadakan, sedangkan itsbat berarti menetapkan. Nafi adalah meniadakan hak peribadahan dari segala sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla. Sementara itu, itsbat adalah menetapkan bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang berhak diibadahi.
Dengan demikian, laa ilaaha illallah mengandung makna meniadakan seluruh sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya.
Tauhid tidak cukup hanya dengan meniadakan sesembahan selain Allah tanpa menetapkan ibadah hanya kepada-Nya. Sebaliknya, menetapkan bahwa Allah berhak diibadahi juga tidak cukup apabila seseorang masih mempersekutukan-Nya dengan makhluk lain. Tauhid harus mencakup keduanya, yaitu meniadakan segala sesembahan yang tidak berhak diibadahi dan menetapkan bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang berhak diibadahi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)
Ayat tersebut menjelaskan hakikat laa ilaaha illallah, yaitu mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh meridhai kesyirikan. Kesyirikan adalah hal yang paling dibenci oleh orang yang bertauhid. Karena itu adalah konsekuensi laa ilaaha illallah.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian Tentang Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Makna Kalimat Laa Ilaaha Illallah” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56629-makna-kalimat-laa-ilaaha-illallah/